PAPUA CERITA!!  KONFLIK DI LINGKAR TAMBANG NEMANGKAWI: WARGA PENAMBANG TRADISIONAL DITUDUH TERORIS, TUNTUTAN KEDAULATAN KEMBALI MEMANAS - Investigasi Warta Global

Mobile Menu

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

PAPUA CERITA!!  KONFLIK DI LINGKAR TAMBANG NEMANGKAWI: WARGA PENAMBANG TRADISIONAL DITUDUH TERORIS, TUNTUTAN KEDAULATAN KEMBALI MEMANAS

Wednesday, 13 May 2026


TIMIKA, 8 Mei 2026,InvestigasiWartaGlobal.Id
 Konflik kembali pecah di wilayah lingkar tambang Gunung Nemangkawi, area operasi PT Freeport Indonesia. Warga yang mencari penghidupan dengan mendulang sisa emas di kawasan tersebut kini dituding sebagai kelompok teroris oleh aparat keamanan.

Dari Penambang Tradisional Jadi “Terduga Teroris”  
Masyarakat adat setempat selama ini menggantungkan hidup pada aktivitas mendulang emas sisa di sekitar area tambang. Bagi mereka, ini adalah upaya mencari secercah harapan ekonomi di atas tanah leluhur.

Namun sejak operasi pengamanan wilayah objek vital nasional diperketat, warga yang masuk ke kawasan itu langsung dicap sebagai ancaman keamanan. Label “teroris” yang disematkan memicu kemarahan dan rasa tidak adil di kalangan masyarakat.

“Kami Tidur di Atas Kekayaan, Tapi Dianggap Pencuri”  
Ketegangan semakin memuncak karena kawasan yang diamankan militer merupakan wilayah adat masyarakat setempat. Warga menilai dalih pengamanan objek vital hanya menjadi pembenaran untuk mengusir mereka dari tanah sendiri.

“Kami tidur di atas kekayaan alam, tapi dianggap pencuri dan teroris oleh kapitalisme dan militerisme negara ini,” tulis salah satu pernyataan warga yang beredar. 

Mereka menegaskan, negara seharusnya melindungi hak adat, bukan mengkriminalisasi masyarakat yang bertahan hidup di tanahnya sendiri.

Seruan Bergerak dan Rebut Kedaulatan  
Konflik ini kembali memanaskan seruan kemerdekaan West Papua di ruang publik. Aktivis lokal mengajak masyarakat keluar dari zona nyaman yang disebut diciptakan kapitalisme dan bersatu menuntut kedaulatan.

“Ko harus kenali ko pu diri dan hak yang sesungguhnya. Sebenarnya ko sedang dijajah tapi seakan-akan negara ini bikin bawah ko sedang tidak dijajah,” seru salah satu aktivis. 

Mereka mengutip prinsip hukum internasional: kemerdekaan adalah hak segala bangsa.

Pemerintah Belum Beri Pernyataan Resmi  
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari PT Freeport Indonesia, TNI, maupun Polri terkait insiden 8 Mei 2026 di Gunung Nemangkawi. 

Situasi di lapangan masih terpantau tegang. Warga mendesak agar pendekatan keamanan diubah menjadi pendekatan dialog dan pengakuan hak adat.

Konflik Nemangkawi bukan hal baru. Namun setiap benturan antara warga, perusahaan, dan aparat selalu menghidupkan kembali pertanyaan lama: siapa sebenarnya yang berhak atas tanah Papua?
Netti/*

#Nemangkawi #Freeport #Papua #HakAdat #KonflikTambang
Memuat konten...