Riau, 27/2/2026, Investigasi WartaGlobal. Id
Sebuah kisah asmara yang berujung tragedi pemerkosaan menyelimuti kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau. Reyhan, mahasiswa introvert dari universitas yang sama dengan korban Fara, berubah menjadi pelaku obsesif setelah pertemuan awal di posko KKN.
Investigasi WartaGlobal.id mengungkap kronologi lengkap yang menunjukkan tanda-tanda bahaya sejak dini, memicu pertanyaan:
Mengapa sinyal peringatan ini terabaikan? Pertemuan pertama mereka terjadi di posko KKN lintas universitas. Reyhan dikenal kawan-kawannya sebagai sosok pendiam, calm, dan minim interaksi sosial. Sebaliknya, Fara—mahasiswi ceria, humanis, dan mudah bergaul—merasa perlu mendekatinya demi kelancaran program kerja tim.
"Fara sering mengajak Reyhan ngobrol supaya tim kompak," ungkap sumber dekat tim KKN yang enggan disebut namanya, menekankan niat murni Fara sebagai rekan kerja.Namun, perhatian hangat itu justru membangkitkan obsesi di hati Reyhan. Belum pernah mendapat perhatian dari perempuan, ia langsung 'baper' meski tahu Fara sudah berpasangan.
Sepanjang pertengahan hingga akhir KKN, keduanya terlihat akrab: di mana Fara berada, Reyhan mengikuti. Kawan-kawan tim mulai curiga, tapi tak ada yang menduga bakal berujung kekerasan seksual.
Obsesi membara pasca-KKN. Reyhan kerap menunggu Fara usai kuliah, mendatanginya tiba-tiba, bahkan mengabaikan batas privasi. Fara akhirnya bersikap tegas: "Dia minta Reyhan menjauh karena risih dan sudah punya pacar," cerita teman dekat Fara. Penolakan ini memicu titik puncak kegilaan Reyhan—ia tampak kehilangan akal sehat, berperilaku seperti penderita gangguan jiwa, hingga melakukan pemerkosaan terhadap Fara.
Kasus ini menyoroti lubang hitam di lingkungan kampus: kurangnya pengawasan terhadap perilaku obsesif antar-mahasiswa. Data Polresta Pekanbaru menunjukkan peningkatan 15% kasus kekerasan seksual di Riau sejak 2025, mayoritas berawal dari hubungan dekat yang salah paham.
UIN Suska belum merespons permintaan konfirmasi kami, tapi pakar psikologi forensik Dr. Andi Rahman menilai, "Reyhan menunjukkan gejala love bombing ekstrem yang berpotensi kekerasan—kampus wajib punya protokol dini.
"Kronologi lengkap ini didasari wawancara eksklusif dengan 5 rekan KKN, teman korban, dan dokumen polisi. Tragedi ini bukan sekadar kisah asmara gagal, tapi peringatan bagi institusi pendidikan: abaikan sinyal obsesi, dan korban bisa berujung tragis.


.jpg)