Fakta Atau Isu : Media Pers Dan Medsos Ramai Berita Polisi Narkoboi Dan Pembunuh ! - Investigasi Warta Global

Mobile Menu

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

Fakta Atau Isu : Media Pers Dan Medsos Ramai Berita Polisi Narkoboi Dan Pembunuh !

Tuesday, 24 February 2026




Polisi Bukan Pelindung, Malah Pembunuh? Dua Tragedi Brutal dalam 7 Hari Nodai "Presisi" 


Maluku, 24 Februari 2026 , Investigasi WartaGlobal. Id
 Slogan "Presisi" pagi-pagi berulang di senam Polri, tapi realitasnya biadab: dua nyawa hilang dalam seminggu gara-gara kekerasan polisi. Bukan film Netflix, tapi fakta pahit dari Tual dan Makassar. Siapa lindungi rakyat kalau penegak hukum jadi algojo?

Episode 1: Helm Baja Hancurkan Kepala Bocah 14 Tahun di Tual Kamis dini, 19 Februari 2026, Tual, Maluku Tenggara.
 Arianto Tawakal (14), siswa madrasah tsanawiyah, naik motor pulang sahur bareng kakaknya. 
Bukan preman, bukan narkoba—hanya anak biasa yang mimpi dokter atau YouTuber.Masuk Bripda MS (Masias Siahaya), Brimob Batalyon C Pelopor Polda Maluku, patroli "cipta kondisi" pakai truk taktis. 
Alih-alih aman, dia hantam kepala AT dengan helm baja anti peluru—alat pengendali massa untuk kerusuhan, bukan anak sahur. AT jatuh, tengkorak remuk, dilarikan RSUD Karel Sadsuitubun. Meninggal dunia.

Investigasi Tajam:
Propam Polri: Bripda MS tersangka UU Perlindungan Anak (Pasal 76H jo 81: 15 tahun penjara). Ditahan, sidang etik, ancaman PTDH.

Kapolri Listyo Sigit Prabowo: "Menodai marwah," perintah hukuman maksimal. Tapi atasan patroli? Belum disentuh.Data Komnas HAM: 2025 catat 1.247 kasus kekerasan aparat, naik 12% dari 2024. Brimob terlibat 28 kasus fatal.Yusril Ihza Mahendra: "Pecat dan hukum berat!" Imparsial: Periksa komandan. DPR: Investigasi menyeluruh.

Pertanyaan menggantung: Mengapa helm baja dipakai lawan bocah tak bersenjata? Laporan patroli malam itu disembunyikan?Episode 2: Polisi Muda 19 Tahun Tewas Diduga Bullying Barak di MakassarMinggu pagi, 22 Februari 2026, Asrama Polda Sulsel. Bripda Dirja Pratama (19), baru 1 tahun dinas di Dit Samapta, habis sahur mengeluh sakit. Dibawa RSUD Daya: mulut berdarah, badan memar. Bukan "benturan"—nyawa raib.Investigasi Tajam:Propam: 6 orang diperiksa (rekan & senior). Visum RS Bhayangkara tunjuk tanda kekerasan. 

Autopsi dugaan bullying "pembinaan."Data BPS Polri internal (2025): 47 kasus kekerasan internal, 12 fatal—sering ditutup "kecelakaan."Keluarga tuntut transparansi. Polda Sulsel bungkam soal motif.Bayangkan: Polisi muda dilatih lindungi rakyat, malah tumbang tangan sesama berseragam.

Pola Busuk Institusi: Dari "Cipta Kondisi" ke "Cipta Mayat"Dua kasus, 7 hari: Anak 14 tewas helm baja, polisi 19 diduga dipukul mati. Keduanya pas sahur. Tren? Komnas HAM laporkan Polri terlibat 40% kasus ekstrayudisial 2020-2025. Anggaran Brimob Rp 5,2 T (2026), tapi training hak asasi? Nol besar.

Belum lagi polisi serta polwan pelaku Narkoba serta
meninggalnya polisi remaja dll. 
Ampun Indonesia benar-benar muak polisi, jangan salahkan bila masyarakat Indonesia bergerak guna mendapatkan keadilan dan kebenaran. 

Kapolri janji hukuman. DPR desak. Tapi tanpa reformasi, "Presisi" cuma jargon. Rakyat tanya: Siapa polisi sebenarnya lindungi?

Jadi pertanyaan Kapolri Seumur hidup
#Rakyat Tidak Percaya Polisi