GURU DISALAHKAN, PELANGGAR DIELUK-ELUKKAN, KRISIS MORAL DI DUNIA PENDIDIKAN - Investigasi Warta Global

Mobile Menu

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

GURU DISALAHKAN, PELANGGAR DIELUK-ELUKKAN, KRISIS MORAL DI DUNIA PENDIDIKAN

Wednesday, 15 October 2025

Oleh: Ali Rosad – Pemerhati Pendidikan

Bandar Lampung,wartaglobal.id-Gambar satir bertuliskan “Biarkan Anak Emas Merokok di Sekolah” menjadi potret getir wajah pendidikan kita hari ini. Sebuah ironi yang menohok: ketika guru berupaya menegakkan disiplin, justru ia diposisikan sebagai pihak bersalah. Sementara pelanggar aturan—yang seharusnya mendapat pembinaan—malah dielu-elukkan, dibela mati-matian oleh orang tuanya. Fenomena ini bukan sekadar insiden kecil di ruang kelas, tetapi gejala sosial yang mengindikasikan krisis moral dan hilangnya wibawa pendidikan.

Dalam berbagai kasus, guru kini sering berada di posisi yang paling rentan. Tindakan tegas demi mendidik dianggap melanggar hak anak, sementara pelanggaran siswa dipoles menjadi “kenakalan wajar.” Padahal, pendidikan sejatinya tidak hanya mentransfer ilmu, melainkan membentuk karakter. Emile Durkheim, tokoh sosiologi pendidikan, menyebut disiplin sebagai pilar moral utama dalam proses pembentukan kepribadian sosial. Ketika disiplin dilunakkan atas nama toleransi, sekolah kehilangan jati dirinya sebagai laboratorium moral bangsa.

Hal ini sejalan dengan pandangan Thomas Lickona yang menegaskan bahwa pendidikan karakter harus menyentuh tiga ranah: pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral. Tanpa keseimbangan ketiganya, siswa tumbuh dalam ruang kosong—pandai berargumen, tetapi miskin tanggung jawab. Saat pelanggaran dibiarkan tanpa konsekuensi, anak belajar bahwa kesalahan bisa dinegosiasikan, bahwa kebenaran bisa ditekuk jika memiliki pembela yang cukup keras.

Lebih menyedihkan lagi, ketika sebagian orang tua tak lagi menjadi mitra sekolah, tetapi justru berubah menjadi “pengacara” bagi anaknya sendiri. Alih-alih mempercayai guru, mereka menyerang, menuduh, bahkan melaporkan pendidik yang menegur anaknya. Dalam iklim seperti ini, guru kehilangan wibawa, murid kehilangan arah, dan pendidikan kehilangan ruh.

Sudah saatnya kita mengembalikan marwah guru sebagai pendidik sejati. Pemerintah perlu memperkuat perlindungan hukum bagi guru yang menjalankan tugas pendisiplinan secara proporsional dan mendidik. Di sisi lain, sekolah dan orang tua harus kembali bersinergi, menjalin komunikasi yang sehat demi kepentingan anak.

Pendekatan restoratif dapat menjadi solusi: siswa diajak memahami kesalahannya, memperbaikinya, dan bertanggung jawab atas tindakannya—tanpa harus menumbuhkan dendam atau rasa takut. Pendidikan yang bermartabat lahir dari keseimbangan antara ketegasan dan kasih sayang.

Sebab pada akhirnya, guru tidak butuh disanjung—mereka hanya butuh dihormati. Mereka berdiri di garda terdepan membentuk masa depan bangsa, meski kerap disalahpahami oleh masyarakat yang semakin kehilangan arah nilai. Jika krisis moral ini dibiarkan, bukan hanya wibawa guru yang runtuh, tetapi juga masa depan generasi kita.