Warga Desa Tawa Gelar Aksi Demo, PT Intim Kara Diduga Langgar Kesepakatan Perekrutan Tenaga Kerja - Investigasi Warta Global

Mobile Menu

TOP ADS

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

More News

logoblog

Warga Desa Tawa Gelar Aksi Demo, PT Intim Kara Diduga Langgar Kesepakatan Perekrutan Tenaga Kerja

Tuesday, 25 March 2025

Halsel, INVESTIGASI.-Ratusan warga Desa Tawa, Kecamatan Bacan Timur Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan, menggelar aksi unjuk rasa di depan gerbang utama PT Intim Kara, Senin (24/03). Aksi yang dipimpin oleh Ketua Pemuda Desa Tawa, Armiles Karim, tersebut memprotes dugaan pelanggaran kesepakatan perekrutan tenaga kerja yang telah disepakati sebelumnya antara perusahaan dan masyarakat setempat.

Demonstrasi dimulai sekitar pukul 09.00 WIT dengan pengawalan ketat aparat kepolisian dari Bhabinkamtibmas Polsek Bacan Timur. Para demonstran menuai poster yang berisi tuntutan mereka, seperti "Utamakan Tenaga Kerja Lokal" dan "PT Intim Kara Harus Tepati Janji!" Suasana aksi yang awalnya berlangsung damai berubah memanas ketika massa mencoba menerobos gerbang perusahaan.

Dalam orasinya, Armiles Karim menyampaikan bahwa aksi ini merupakan puncak kekecewaan masyarakat terhadap sikap PT Intim Kara yang dianggap tidak konsisten dalam memenuhi janji perekrutan tenaga kerja lokal."Kami sudah beberapa kali melakukan audiensi dengan pihak perusahaan, tetapi hasilnya nihil. Mereka selalu berjanji akan memprioritaskan warga lokal, tapi kenyataannya justru mempekerjakan orang luar yang tidak jelas asal-usulnya," ujar Armiles dengan nada penuh emosi.

Selain persoalan perekrutan tenaga kerja, warga juga menyoroti keterlambatan pembayaran gaji karyawan yang kerap terjadi tanpa ada penjelasan pasti dari pihak perusahaan. Menurut salah satu pekerja lokal yang enggan disebutkan namanya, keterlambatan pembayaran gaji tersebut telah berlangsung selama tiga bulan terakhir."Banyak dari kami yang bekerja di sini hanya mengandalkan gaji bulanan untuk kebutuhan sehari-hari. Jika gaji terlambat, bagaimana kami bisa mencukupi kebutuhan keluarga?" keluhnya.

Tidak hanya itu, warga juga menuntut agar PT Intim Kara lebih transparan dalam memberikan informasi terkait lowongan kerja serta berkontribusi lebih dalam kegiatan sosial masyarakat. Masyarakat menuntut realisasi bantuan material untuk perbaikan infrastruktur desa, yang sebelumnya telah dijanjikan perusahaan.

Menanggapi aksi demonstrasi tersebut, Project Manager PT Intim Kara, Yadi, turun langsung menemui perwakilan warga. Dalam keterangannya, Yadi menegaskan bahwa perusahaan tetap berkomitmen untuk memprioritaskan tenaga kerja lokal, namun dengan tetap mempertimbangkan kualifikasi dan persyaratan teknis.

"Saat ini kami masih mempekerjakan mayoritas warga lokal. Jika ada tenaga kerja dari luar, itu karena kebutuhan khusus yang memerlukan keahlian tertentu. Kami juga mengutamakan keselamatan kerja dengan syarat kepemilikan SIM bagi sopir truk pengangkut hasil tambang," jelas Yadi.

Mengenai keterlambatan pembayaran gaji, Yadi meminta maaf dan berjanji akan melakukan evaluasi internal untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang. Ia juga meminta warga untuk berkoordinasi dengan pemerintah desa dalam hal pengajuan bantuan sosial agar lebih terstruktur dan tepat sasaran."Kami tidak bermaksud mengabaikan masyarakat. Namun, semua bentuk bantuan dan komunikasi perlu disampaikan melalui jalur yang benar, yaitu melalui kepala desa dengan surat resmi," tambahnya.

Meskipun aksi demonstrasi telah berakhir, warga Desa Tawa masih menunggu realisasi dari janji-janji yang disampaikan pihak perusahaan. Mereka berharap PT Intim Kara tidak hanya mementingkan keuntungan perusahaan semata, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat sekitar yang turut terdampak oleh aktivitas perusahaan.

Jika tuntutan mereka tidak dipenuhi, warga mengancam akan menggelar aksi yang lebih besar dengan melibatkan elemen masyarakat lainnya dari desa-desa sekitar. Bagi mereka, kehadiran PT Intim Kara bukan hanya soal eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga harus membawa dampak positif bagi masyarakat setempat.

Reporter :Chan

KALI DIBACA

Halsel, INVESTIGASI.-Ratusan warga Desa Tawa, Kecamatan Bacan Timur Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan, menggelar aksi unjuk rasa di depan gerbang utama PT Intim Kara, Senin (24/03). Aksi yang dipimpin oleh Ketua Pemuda Desa Tawa, Armiles Karim, tersebut memprotes dugaan pelanggaran kesepakatan perekrutan tenaga kerja yang telah disepakati sebelumnya antara perusahaan dan masyarakat setempat.

Demonstrasi dimulai sekitar pukul 09.00 WIT dengan pengawalan ketat aparat kepolisian dari Bhabinkamtibmas Polsek Bacan Timur. Para demonstran menuai poster yang berisi tuntutan mereka, seperti "Utamakan Tenaga Kerja Lokal" dan "PT Intim Kara Harus Tepati Janji!" Suasana aksi yang awalnya berlangsung damai berubah memanas ketika massa mencoba menerobos gerbang perusahaan.

Dalam orasinya, Armiles Karim menyampaikan bahwa aksi ini merupakan puncak kekecewaan masyarakat terhadap sikap PT Intim Kara yang dianggap tidak konsisten dalam memenuhi janji perekrutan tenaga kerja lokal."Kami sudah beberapa kali melakukan audiensi dengan pihak perusahaan, tetapi hasilnya nihil. Mereka selalu berjanji akan memprioritaskan warga lokal, tapi kenyataannya justru mempekerjakan orang luar yang tidak jelas asal-usulnya," ujar Armiles dengan nada penuh emosi.

Selain persoalan perekrutan tenaga kerja, warga juga menyoroti keterlambatan pembayaran gaji karyawan yang kerap terjadi tanpa ada penjelasan pasti dari pihak perusahaan. Menurut salah satu pekerja lokal yang enggan disebutkan namanya, keterlambatan pembayaran gaji tersebut telah berlangsung selama tiga bulan terakhir."Banyak dari kami yang bekerja di sini hanya mengandalkan gaji bulanan untuk kebutuhan sehari-hari. Jika gaji terlambat, bagaimana kami bisa mencukupi kebutuhan keluarga?" keluhnya.

Tidak hanya itu, warga juga menuntut agar PT Intim Kara lebih transparan dalam memberikan informasi terkait lowongan kerja serta berkontribusi lebih dalam kegiatan sosial masyarakat. Masyarakat menuntut realisasi bantuan material untuk perbaikan infrastruktur desa, yang sebelumnya telah dijanjikan perusahaan.

Menanggapi aksi demonstrasi tersebut, Project Manager PT Intim Kara, Yadi, turun langsung menemui perwakilan warga. Dalam keterangannya, Yadi menegaskan bahwa perusahaan tetap berkomitmen untuk memprioritaskan tenaga kerja lokal, namun dengan tetap mempertimbangkan kualifikasi dan persyaratan teknis.

"Saat ini kami masih mempekerjakan mayoritas warga lokal. Jika ada tenaga kerja dari luar, itu karena kebutuhan khusus yang memerlukan keahlian tertentu. Kami juga mengutamakan keselamatan kerja dengan syarat kepemilikan SIM bagi sopir truk pengangkut hasil tambang," jelas Yadi.

Mengenai keterlambatan pembayaran gaji, Yadi meminta maaf dan berjanji akan melakukan evaluasi internal untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang. Ia juga meminta warga untuk berkoordinasi dengan pemerintah desa dalam hal pengajuan bantuan sosial agar lebih terstruktur dan tepat sasaran."Kami tidak bermaksud mengabaikan masyarakat. Namun, semua bentuk bantuan dan komunikasi perlu disampaikan melalui jalur yang benar, yaitu melalui kepala desa dengan surat resmi," tambahnya.

Meskipun aksi demonstrasi telah berakhir, warga Desa Tawa masih menunggu realisasi dari janji-janji yang disampaikan pihak perusahaan. Mereka berharap PT Intim Kara tidak hanya mementingkan keuntungan perusahaan semata, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat sekitar yang turut terdampak oleh aktivitas perusahaan.

Jika tuntutan mereka tidak dipenuhi, warga mengancam akan menggelar aksi yang lebih besar dengan melibatkan elemen masyarakat lainnya dari desa-desa sekitar. Bagi mereka, kehadiran PT Intim Kara bukan hanya soal eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga harus membawa dampak positif bagi masyarakat setempat.

Reporter :Chan



No comments:

Post a Comment