
BANDAR LAMPUNG, Investigasi.WartaGlobal.id - Integritas seleksi mahasiswa Program Doktor (S3) Universitas Lampung (Unila) tahun 2026 tengah dipertanyakan. Sorotan muncul setelah beredar informasi mengenai dugaan ketidakhadiran seorang peserta dalam ujian tertulis berbasis komputer atau Computer Based Test (CBT), namun namanya disebut tetap tercantum sebagai peserta yang lolos seleksi.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, ujian CBT Program Doktor Unila berlangsung Sabtu, 25 Juli 2026, pukul 08.00–10.00 WIB di Gedung UPA TIK Universitas Lampung.
Peserta yang menjadi sorotan disebut merupakan seorang pejabat tinggi legislatif di Provinsi Lampung. Dugaan ketidakhadiran secara fisik dalam ujian tersebut menjadi pertanyaan serius karena CBT merupakan bagian dari tahapan seleksi akademik yang seharusnya diikuti peserta sesuai jadwal dan ketentuan yang telah ditetapkan.
Pertanyaan mendasarnya sederhana: jika seorang peserta tidak hadir mengikuti ujian, atas dasar apa peserta tersebut kemudian dinyatakan lolos?
Pertanyaan itu seharusnya dapat dijawab secara objektif melalui dokumen dan sistem yang digunakan dalam proses seleksi, bukan melalui spekulasi.
Apalagi, pelaksanaan ujian berlangsung di fasilitas kampus yang memiliki sistem pengawasan. Rekaman kamera pengawas atau CCTV di sekitar lokasi dapat menjadi salah satu instrumen untuk mencocokkan keberadaan peserta pada waktu pelaksanaan ujian.
Selain CCTV, terdapat sejumlah bukti lain yang semestinya dapat diverifikasi, antara lain daftar hadir peserta, data registrasi, log sistem CBT, berita acara pelaksanaan ujian, serta dokumen hasil seleksi.

Jika seluruh tahapan seleksi telah berjalan sesuai prosedur, verifikasi terhadap dokumen tersebut semestinya tidak menjadi persoalan. Sebaliknya, apabila ditemukan ketidaksesuaian antara kehadiran peserta, data ujian, dan hasil seleksi, kampus berkewajiban memberikan penjelasan secara terbuka.
Sorotan semakin menguat karena akses publik terhadap informasi hasil seleksi melalui Sistem Informasi Manajemen Penerimaan Mahasiswa Universitas Lampung (SIMANILA) disebut mengalami kendala ketika dilakukan upaya verifikasi.
Kondisi tersebut tentu tidak serta-merta membuktikan adanya pelanggaran. Namun, ketika muncul pertanyaan serius mengenai proses seleksi, keterbukaan informasi justru menjadi kunci untuk mencegah berkembangnya spekulasi.
Redaksi juga telah berupaya meminta klarifikasi kepada pihak Humas Unila, program studi terkait, pimpinan universitas, serta pihak yang disebut sebagai peserta. Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh penjelasan resmi yang menjawab substansi dugaan tersebut.
Persoalan ini tidak boleh dipandang semata sebagai isu mengenai satu nama atau satu peserta. Jika benar terdapat ketidaksesuaian dalam proses seleksi, yang dipertaruhkan adalah kredibilitas sistem penerimaan mahasiswa Program Doktor Unila dan rasa keadilan terhadap seluruh peserta yang mengikuti tahapan seleksi sesuai ketentuan.
Sebaliknya, apabila seluruh prosedur telah dilaksanakan secara sah, transparan, dan terdokumentasi, pihak universitas memiliki kesempatan untuk membuktikannya dengan data.
Karena itu, publik tidak membutuhkan bantahan normatif. Publik membutuhkan data, dokumen, dan penjelasan yang dapat diverifikasi.
Apakah peserta tersebut hadir dalam ujian CBT 25 Juli 2026? Apakah namanya tercatat dalam daftar hadir? Apakah terdapat log aktivitas pada sistem CBT? Dan apakah rekaman CCTV mendukung data kehadiran tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan itu kini menjadi pekerjaan rumah bagi Unila.
Pemberitaan ini tidak dimaksudkan untuk memvonis adanya kecurangan ataupun pelanggaran akademik. Dugaan tetap harus diuji berdasarkan bukti. Namun, ketika menyangkut seleksi pendidikan jenjang Doktor, transparansi bukan sekadar pilihan komunikasi—melainkan bagian dari pertanggungjawaban institusi kepada publik dan seluruh peserta seleksi.
Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi Universitas Lampung maupun pihak terkait sesuai prinsip akurasi, keberimbangan, praduga tak bersalah, serta Kode Etik Jurnalistik.
Sumber: Data dan informasi yang dihimpun redaksi serta upaya konfirmasi kepada pihak-pihak terkait.


.jpg)